News

Putin Disebut Siap Lanjutkan Dialog dengan Trump

Istanbul (KABARIN) - Kremlin menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin tetap terbuka untuk berdialog dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meskipun pembicaraan melalui telepon yang diperkirakan berlangsung di antara keduanya belum terlaksana.

"Bapak Trump tampaknya sangat sibuk setelah seluruh rangkaian pertemuan di Ankara sehingga tidak ada yang menelepon kemarin," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan dalam konferensi pers, Kamis.

Peskov merujuk pada agenda Trump di Ankara, Turki, saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke-36.

Setelah pembicaraan melalui telepon antara kedua pemimpin pada akhir pekan lalu, Kremlin, Senin (6/7) menyatakan Putin dan Trump memahami bahwa komunikasi di antara mereka akan kembali berlanjut dalam waktu dekat.

Peskov mengatakan meskipun percakapan telepon tersebut belum terjadi, Putin "selalu senang" berbicara dengan Trump. Menurutnya, kedua pemimpin memiliki "dialog yang benar-benar konstruktif, meskipun terdapat sejumlah perbedaan pandangan."

"Presiden Putin terbuka untuk berdialog," ujar Peskov.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy serta sejumlah pemimpin dunia di sela-sela KTT NATO di Ankara.

Dalam pertemuan tersebut, Trump mengatakan Putin maupun Zelenskyy sama-sama ingin mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Ia juga menyatakan AS siap "menutup langit" Ukraina sebagai bagian dari jaminan keamanan bagi Kiev apabila langkah tersebut dinilai diperlukan.

Trump menambahkan salah satu isu yang dibahas bersama Zelenskyy adalah pemberian lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot.

"Dengan begitu Anda tidak bisa mengeluh bahwa kami tidak memberi cukup bantuan," kata Trump.

Menanggapi pernyataan tersebut, Peskov mengatakan Washington terus memasok senjata dan teknologi militer ke Ukraina, dan Moskow mengetahui hal itu memang benar tidak memandang situasi dengan sudut pandang yang terlalu optimistis.

Namun, ia menilai AS tetap berkomitmen untuk berupaya memfasilitasi proses perdamaian.

"Berbeda dengan negara-negara lain yang terlibat dalam konflik ini, AS tetap berkomitmen dan terus berusaha memfasilitasi proses perdamaian. Dari sudut pandang itulah kami menilai setiap pernyataan," kata Peskov.

Ia juga menyebut terdapat "dualitas tertentu" dalam sikap AS terhadap Ukraina.

Peskov membantah bahwa pernyataan Trump di Ankara menunjukkan AS kembali menempuh jalur eskalasi terhadap Rusia. Menurutnya, Moskow melihat adanya "kesalahpahaman tertentu" di Gedung Putih mengenai anggapan bahwa penyelesaian konflik Ukraina dapat dicapai melalui eskalasi dan tekanan militer.

Ia mengatakan kesiapan AS untuk "menutup langit" Ukraina mengindikasikan keterlibatan NATO di wilayah negara tersebut. Menurut Peskov, hal itu menjadi salah satu alasan Rusia tetap melanjutkan "operasi militer khusus", istilah yang digunakan Moskow untuk menyebut perang di Ukraina.

Peskov juga memperingatkan bahwa "eskalasi lebih lanjut" berpotensi memperpanjang konflik di Ukraina dan memaksa Rusia membentuk "zona penyangga yang lebih luas."

"Oleh karena itu, peningkatan ketegangan dan berbagai tindakan eskalatif sama sekali tidak akan berkontribusi terhadap proses perdamaian," ujarnya.

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: